img

admin ^_^

| Politik

129

Liputan6.com, Jakarta - Setya Novanto tidak datang dengan kepala tegak untuk menjalani sidang perdana dalam kasus korupsi e-KTP di Pengadilan Tipikor, Rabu siang, 13 Desember 2017. Ia juga tak lantang membantah tuduhan yang dialamatkan jaksa penuntut umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Mantan Ketua DPR itu bungkam, diam, menunduk, menampilkan sosok sebagai korban, dan seakan tak mendengar hakim yang bicara dengan pengeras suara. Ia mengaku sakit parah. Namun, hasil pemeriksaan empat dokter dari RSCM mematahkan dalihnya.

Setya Novanto mengklaim buang air besar sampai 20 kali selama dua hari belakangan karena diare parah. Namun, kata penjaga rutan, ia hanya dua kali ke toilet.

Selama duduk di kursi pesakitan, Setya Novanto selalu tampak lemas dan membisu. Padahal menurut jaksa, ia sudah makan siang dan sebelumnya sanggup berkomunikasi dengan para dokter yang memeriksanya. 

Sikapnya tak mengundang simpati dari majelis hakim yang memutuskan melanjutkan sidang yang beragendakan pembacaan dakwaan itu. Belas kasihan pun tak datang dari publik. Yang muncul justru dugaan bahwa Setya Novanto sedang bersiasat untuk mengulur waktu.

Anggota Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW, Lola Easter, mengatakan siasat Setnov itu bisa dibaca dari keterangan yang berbeda antara tim dokter dan terdakwa.

"Itu perilaku yang sangat disayangkan. Seharusnya Setya Novanto lebih kooperatif. Di pengadilan, itu adalah kesempatan untuk menunjukkan dia (terlibat atau tidak). Harusnya dia tidak perlu lagi macam-macam membuat-buat alasan," ujarnya kepada Liputan6.com, Rabu malam.

Lola menduga, sikap Setnov terkait dengan masih digelarnya sidang praperadilan yang memeriksa soal keabsahan penetapan dirinya sebagai tersangka oleh KPK. 

Besar kemungkinan, Setya Novanto masih menjaga asa bahwa hakim akan memutuskan penetapan dirinya sebagi tersangka tidak sah.

Sebelumnya, jalur praperadilan pernah membebaskannya dari status tersangka. Kala itu, ia yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit mendadak sehat. 

"Putusan praperadilan kalau tidak salah dibacakan besok (Kamis). Patut diduga itu untuk mengulur waktu agar sampai pembacaan putusan praperadilan besok," ujar peneliti ICW tersebut.

Lebih dari itu, sikap Setnov di Pengadilan Tipikor pada Rabu kemarin bukan tidak mungkin akan merugikan dia dalam persidangan selanjutnya.

"Sikap tidak kooperatif itu bisa menjadi pertimbangan hakim untuk memberatkan putusan nantinya. Tapi ini kan baru sidang pertama, lihat saja sikapnya nanti," ujar Lola.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. Dia mengatakan, pihaknya akan mempelajari sikap Setnov selama di persidangan. Dia juga menuturkan, semua tersangka, termasuk Setnov, berpotensi dihukum maksimal jika tidak kooperatif.

"Semua tersangka punya potensi dihukum maksimal kalau tidak kooperatif atau berbelit-belit," ujar Saut Situmorang saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Menurut dia, mantan Ketua DPR itu dalam kondisi sehat untuk mengikuti sidang dakwaan. Sebab, tim dokter RSCM telah melakukan pemeriksaan, sebelum membawa Setnov ke Pengadilan Tipikor.

"Dokter sudah menyatakan kondisi yang bersangkutan itu sehat, sebabnya sidang lanjut," Saut menjelaskan.

Dia pun merasa heran terkait sikap Setnov yang bungkam saat ditanya majelis hakim. Padahal, dalam hasil pemeriksaan dokter KPK pagi hari sebelum sidang, Setnov bisa berkomunikasi dengan baik.

"Apa latar belakang yang bersangkutan diam? Entar akan bisa tahu, siapa tahu sakit gigi, misalnya," kata Saut.

Di sisi lain, Plt Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, berharap JPU KPK tak menyalahkan dan menuding Setya Novanto berbohong.

"Kita menghormati profesi masing-masing. Kita menentukan sikapnya. Tidak ada gunanya kita saling menyalahkan dan saling menuduh. Biarlah proses berjalan," ujar dia.

Yang jelas, "drama tiga babak" di awal persidangan perdana kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto telah berakhir.

Back to Top