img

Admin

| Politik

306

Pemerintah Kabupaten Sintang melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah terus menerus mengamati harga berbagai komoditas kebutuhan pokok masyarakat setiap minggu dan bulan. Hal tersebut untuk bisa mengetahui angka inflasi, jenis barang yang harganya tidak stabil dan mengambil langkah untuk menurunkan inflasi. Sejauh ini mayoritas kebutuhan pokok masyarakat kabupaten sintang masih dipasok dari singkawang dan pontianak serta masih buruknya kondisi infrastruktur yang ada, sehingga terjadi inflasi. Demikian disampaikan Ketua TPID yang juga Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang saat Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Sintang dengan Bank Indonesia Perwakilan Kalbar pada Senin, 24 Oktober 2016 di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Kab Sintang.

“kami setiap tiga bulan mengadakan pertemuan membahas perkembangan harga dan langkah antisipasi yang bisa diambil. Faktor pemicu inflasi di kabupaten sintang adalah kondisi jalan dari pontianak ke sintang, musim kemarau yang mengganggu distribusi, kelangkaan BBM, naiknya harga sembako menjelang hari raya, pengaruh kemarau dan hujan yang tidak bisa diprediksi yang berpengaruh pada produktivitas tanaman lokal” terang Yosepha Hasnah.

“untuk itu kami akan melakukan pemantauan distribusi bahan pangan dan memastikan pasokan lancar, operasi pasar dan menambah pasokan dari luar, menghimbau masyarakat untuk tidak memborong bahan pangan dan mempublikasikan ketersediaan bahan pangan, membina peternak dan petani secara berkelanjutan” tambah Yosepha Hasnah.

Menurut Yosepha Hasnah, berdasarkan data yang ada Laju pertumbuhan ekonomi kabupaten sintang pada tahun 2013 ditargetkan 5, 98 persen terealisasi 6,47 persen dan tahun 2014 ditargetkan 6,33 persen realisasi 6,85 persen. Inflasi pada tahun 2013 sebesar 6,97 persen dan 2014 mencapai 6,85 persen.

Sonny Ciputra dari Bank Indonesia Perwakilan Kalbar yang juga anggota TPID Propinsi Kalbar mengapresiasi kinerja TPID Kabupaten Sintang yang sudah melakukan upaya penurunan inflasi. “Di Kalbar komoditas penyumbang inflasi adalah angkutan udara, daging ayam dan telur. Yang berbahaya sebenarnya naik turun harga karena membuat pengusaha menjadi ragu, lebih baik kalau harganya stabil. Setiap komoditas memiliki harga dasar. Pemkab sintang harus memperhatikan stok beras dan telur karena paling banyak dikonsumsi masyarakat dan defisit stoknya tinggi.

Harga barang yang naik turun, pasti dipasok dari luar. Inflasi di kalbar itu meningginya musiman misalkan pada saat imlek, idul fitri dan natal. Pontianak itu salah satu penghasil udang terbesar di Indonesia, tetapi harga udang mahal karena udang yang bagus dijual keluar, yang jelek dijual di pontianak. Cara mengatasi inflasi adalah kerjasama pengembangan UMKM berbasis komoditas penyumbang inflasi, produk UMKM yang ada dikirim ke kecamatan defisit, pemberian subsidi biaya angkut, dan pemasaran produk secara terjadwal sebagai penyeimbang” terang Sonny Ciputra.

Wiryono Kabid Peternakan Dispertanak menjelaskan bahwa Untuk mengatasi kekurangan stok telur menjelang bulan suci ramadhan dan idul fitri, Pemkab Sintang pernah memberikan subsidi pengangkutan telur dari kalimantan selatan ke sintang. “Pada saat itu, stok telur di propinsi kalbar juga tidak banyak sehingga kami bekerjasama dengan peternak di Kalimantan Selatan. Kami membeli telur harga kandang, lalu biaya angkut kami tanggung, sehingga kami bisa menjual telur di sintang sesuai harga kandang seperti di Kalsel.

Kalau pedagang menjual telur pasti menghitung harga kandang, biaya angkut dan keuntungan” terang Wiryono.
Suhaidi Kabid ketahanan pangan menjelaskan sudah membantu membina masyarakat untuk mengembangkan kebun sayur supaya masyarakat tidak perlu membeli sayur. Hadir dalam kesempatan seluruh SKPD anggota TPID Kabupaten Sintang dan Sariansyah kepala perum bulog sintang

Back to Top